| Nada Pujian | Baca: Mazmur 150 Ayat Mas: Mazmur 150:6 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 47-49; 1 Tesalonika 4 |
Jika Anda pernah menonton film Tarzan, Anda pasti ingat salah satu perilaku Tarzan di film tersebut, yaitu bersuara sambil membuat gerakan seperti memukul dada dengan kedua tangannya bergantian. Perilaku ini diadaptasi Tarzan saat ia dibesarkan oleh keluarga gorila di hutan Afrika. Gorila adalah satu di antara empat kera besar langka yang ada di dunia saat ini. Kebiasaan memukul dada, bukan merupakan perilaku yang tanpa makna. Ada yang hendak disampaikan gorila lewat gerak dan bunyi yang ditimbulkan dari perilaku tersebut. Pukulan dengan tempo lambat, tetapi singkat dan menimbulkan bunyi pelan terkadang hanya berarti sapaan, “Hai!” Tempo yang cepat dan panjang sering digunakan untuk menunjukkan eksistensi, kadang juga untuk menarik perhatian lawan jenis. Sedangkan jika dilakukan dengan keras dan menimbulkan suara kuat, bisa berarti ia merasa terusik. Saya senang memperhatikan vokalisasi satwa, terutama ketika mereka berinteraksi di kelompoknya. Saya bersyukur atas setiap nada yang Tuhan beri di alam semesta. Harmoni yang tercipta menunjukkan bahwa Tuhan begitu sempurna mencipta dan memperlengkapi segala yang bernapas dengan kemampuan untuk memuji Dia. Kitab Mazmur diakhiri dengan sebuah ayat pendek: “Biarlah segala yang bernapas memuji Tuhan! Haleluya!” Jika margasatwa dan desau tanaman bisa menyenandungkan nada yang membuat hati bersyukur atas kebesaran Sang Pencipta, apalagi kita sebagai manusia. Bukan hanya melalui nyanyian dalam ibadah, melainkan juga lewat tutur kata dan perbuatan yang mengajak siapa saja ikut mensyukuri keagungan Tuhan. TERIMA KASIH TUHAN UNTUK SETIAP NADA DI ALAM INI BIARLAH SEGALA YANG BERNAPAS SEREMPAK MEMUJI | |
Penulis: G. Sicillia Leiwakabessy | |
Jumat, 26 November 2010
16 November 2010
15 November 2010
| Beda Jalan | Baca: Yesaya 55:6-11 Ayat Mas: Yesaya 55:9 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 45-46; 1 Tesalonika 3 |
Dua anak menemukan sebuah kantong berisi dua belas butir kelereng. Mereka berdebat soal pembagian kelereng itu dan memutuskan untuk mendatangi seorang bapak yang mereka anggap bijak. Ketika diminta menengahi, bapak itu bertanya, mereka mau kelereng itu dibagi menurut keadilan manusia atau keadilan Tuhan. Anak-anak itu menjawab, “Kami mau yang adil. Jadi, bagilah menurut keadilan Tuhan.” Sang bapak pun menghitung kelereng tersebut, lalu memberikan tiga butir kepada salah satu anak, dan sembilan butir kepada anak yang lain. Pertanyaan sang bapak mengingatkan kita bahwa terkadang ada perbedaan besar antara keadilan yang diberikan manusia dan Allah. Jalan Tuhan, pikiran dan rencana-Nya, jauh berbeda dari jalan manusia. Standar kebenaran dan keadilan-Nya juga lain dari standar manusia. Seperti langit dan bumi bedanya—kiasan Yesaya itu masih kita pakai sampai sekarang. Manusia hanya melihat sepotong gambar, Allah melihat gambar itu secara menyeluruh. Manusia hanya mengamati tindakan lahiriah, Tuhan sanggup menilik sampai ke relung hati yang paling dalam. Apa yang dianggap baik oleh Tuhan, bisa jadi malah dianggap jahat oleh manusia. Ketika kita berharap mendapat bagian sama rata, Tuhan membagikan karunia menurut keperluan masing-masing orang. Apa yang kita rasa lamban, bagi Dia indah pada waktunya. Adakah harapan kita yang belum terwujud sampai saat ini? Atau, adakah doa yang sudah sekian lama kita panjatkan, tetapi kita belum kunjung melihat titik terang jawaban-Nya? Mungkin Tuhan bukannya berdiam diri. Bisa jadi Dia justru sedang menjawabnya secara tak terduga: menurut jalan-Nya, bukan menurut jalan kita JANGAN MEMBENGKOKKAN JALAN TUHAN MENURUT KEMAUAN KITA KITALAH YANG HARUS MENUNDUKKAN DIRI MENGIKUTI JALANNYA | |
Penulis: Arie Saptaji | |
14 November 2010
| Kehilangan Kesempatan | Baca: 2 Samuel 18:33-19:8 Ayat Mas: 2 Samuel 19:7 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 43-44; 1 Tesalonika 2 |
Patrick Beckert adalah atlet speed skating asal Jerman di Olimpiade Musim Dingin, Februari 2010 di Vancouver, Kanada. Pada babak penyisihan, Beckert hanya berada di posisi ke-4, sehingga gagal masuk ke babak final. Ia begitu kecewa, sehingga memutuskan untuk pergi meninggalkan base camp-nya dan mematikan telepon selularnya. Tidak disangka, Enrico Fabis, atlet Italia pemegang dua medali emas, menarik diri dari pertandingan final karena cedera. Maka, terbukalah peluang untuk Beckert bertanding di babak final. Akan tetapi, karena tidak bisa dihubungi, Beckert pun akhirnya kehilangan kesempatan berharga yang diimpi-impikannya itu. Kesedihan mendalam juga dialami Daud ketika mendengar kabar kematian Absalom, anaknya yang memberontak. Ia sungguh berduka, sehingga ia menarik diri dari tentaranya yang telah berjuang untuknya. Untunglah Yoab mengingatkan Daud tentang apa yang masih dimiliki dan layak disyukurinya (ayat 5,6), sehingga Daud pun tidak terus larut dalam kesedihan dan terhindar dari kehilangan yang lebih besar lagi, yaitu orang-orang yang setia kepadanya (ayat 7,8). Dalam menjalani kehidupan ini, kita pun bisa saja mengalami kekecewaan; ketika harapan tidak terwujud, atau apa yang kita idam-idamkan hilang lenyap. Dalam situasi demikian, yang perlu selalu kita ingat adalah: jangan tenggelam dan berlarut-larut dengan kesedihan. Selain tidak akan menyelesaikan masalah, itu bisa mengundang kehilangan yang lain; mungkin kesempatan berharga, sahabat, atau bahkan kesehatan. Dan yang pasti, kita akan kehilangan rasa syukur atas apa yang ada. Sayang sekali, bukan? KECEWA BERLARUT BISA MENGHANYUTKAN KESEMPATAN DI DEPAN MATA | |
Penulis: Ayub Yahya | |
13 November 2010
| Doa Hampa | Baca: Lukas 6:12-16 Ayat Mas: Lukas 6:12 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 41-42; 1 Tesalonika 1 |
Sebuah lagu lama berlirik menegur: Sering kali aku berdoa/hanya karena tak ingin dicela/Namun kini kusadar Tuhan, seharusnya ku datang/Dengan segenap rindu dari lubuk hatiku/Dengan hasrat yang tulus/Karena ku cinta pada-Mu/Tak hanya memikirkan berkat yang Kauberikan/Sungguh hanya karena ku mengasihi-Mu Yesus. Kalau mau jujur, kerap kali yang keluar dari mulut kita adalah doa yang “sekadar berdoa”—doa sebatas menjalankan aktivitas rutin, mengucap kata-kata hafalan tanpa penghayatan, atau sekadar menunaikan kewajiban. Doa hanya karena tak mau dicela orang lain. Bahkan, kadang-kadang juga doa yang terburu-buru. Pokoknya jika sudah berdoa, hati sudah merasa tenang sebab kewajiban sudah terlaksana. Padahal, sejatinya doa tidak seperti itu. Doa harus lebih banyak berisi tentang ungkapan hati dan kasih kepada Tuhan. Dalam bacaan hari ini, Yesus berdoa semalam-malaman, sebab lewat doa, Dia menjalin hubungan dengan Bapa. Melalui doa, Dia mencurahkan isi hati-Nya dan menangkap kehendak Bapa-Nya. Jika doa kita hanya berisi kata-kata yang kosong, maka tak ada bedanya kita berdoa seperti orang Farisi. Mereka berdoa dengan bibirnya, tetapi sebenarnya hatinya jauh dari Tuhan (Matius 7:6). Doa bukan agar dipuji orang, tetapi agar hati terarah kepada Allah. Doa bukan kewajiban, tetapi doa harus merupakan sebuah kerinduan. Jika doa hanya dilakukan karena motivasi-motivasi dangkal semacam ini, maka akan lahir doa-doa yang hampa. Namun, jika sebuah doa lahir karena kerinduan, maka itulah yang mengetuk hati Tuhan TUHAN TAK PERNAH LUPUT MEMPERHATIKAN DOA SEDERHANA YANG DINAIKKAN DARI HATI YANG MENGASIHI-NYA | |
Penulis: Petrus Kwik | |
12 November 2010
| Sakit Hati | Baca: Nehemia 4:1-6 Ayat Mas: Nehemia 4:1 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 39-40; Kolose 4 |
Orang sulit. Begitulah julukan bagi orang yang mudah tersinggung. Ia sering merasa diejek atau dihina, padahal orang lain tidak bermaksud apa-apa. Ketika kita berbisik-bisik, ia mengira kita membicarakannya. Saat lupa mengucapkan salam atau terlambat membalas SMS, ia pikir kita memusuhinya. Ia bagai kentang berkulit tipis. Sedikit saja tergores, sudah merasa sakit hati. Sanbalat, Gubernur Samaria (Israel Utara), berambisi menguasai Israel Selatan, termasuk kota Yerusalem. Melihat Nehemia pulang dari pembuangan dan memimpin pembangunan tembok Yerusalem, ia tersinggung. Sakit hati. Dikiranya Nehemia ingin menarik simpati rakyat. Tebar pesona. Sanbalat merasa popularitasnya terancam, padahal Nehemia sama sekali tidak punya itikad buruk. Ia membangun tembok hanya sebagai wujud bakti kepada Tuhan dan bangsanya. Karena hatinya terluka, Sanbalat berusaha balas melukai hati Nehemia. Ia mengejek. Mengolok-olok. Mengeluarkan pernyataan sinis agar para pekerja patah semangat. Upaya itu tidak mempan, sebab Nehemia tidak membiarkan dirinya dikuasai sakit hati. Perkara itu ia serahkan kepada Tuhan, lalu ia pun kembali bekerja. Apakah Anda cepat tersinggung? Sering salah paham? Rasa sakit hati bisa membuat Anda bersikap membela diri. Ingin balas melukai, padahal belum tentu orang tersebut bermaksud buruk kepada Anda. Orang yang cepat tersinggung akan dijauhi orang! Belajarlah dari Nehemia. Sakit hati tak perlu dibalas dengan menyakiti hati orang, yang terbaik hanyalah dengan mencurahkan isi hati kepada Tuhan. ORANG YANG HATINYA CEPAT TERLUKA TANPA SADAR KERAP MELUKAI HATI ORANG LAIN JUGA | |
Penulis: Juswantori Ichwan | |
11 November 2010
| Ku Tak Kan Menyerah | Baca: Mazmur 28:6-9 Ayat Mas: Mazmur 28:7 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 37-38; Kolose 3 |
Suatu hari saya mengamati sebuah pohon. Daunnya hijau, segar. Daun-daun itu bertumbuh: makin lebar, makin panjang, makin tua. Ada yang mengilap, ada yang berlubang, tetapi masih terus bertumbuh. Pengamatan ini ternyata sangat bermakna bagi saya. Bukankah hidup iman kita mirip daun-daun itu? Selama kita melekat kepada Kristus, kita bagai daun yang bertumbuh dan mendapat makanan dari pohonnya. Namun, apabila kita menjauh dari-Nya, maka kita bagai daun yang dipetik lepas dari pohon. Mungkin masih terlihat hijau, tetapi sudah tak ada pertumbuhan, dan tak lama lagi akan mati. Daud, meskipun beberapa kali mengalami kegagalan dalam hidupnya, tetap berusaha untuk kembali melekat kepada Tuhan. Ketika ia harus menghadapi pengalaman yang berat dan sulit, salah satunya saat ia dikejar-kejar Saul dan pasukannya, Daud mengungkap bahwa kekuatan sejatinya ialah Tuhan (ayat 7). Ia mengaku bahwa tanpa Tuhan, ia tidak akan kuat menanggung persoalan-persoalan di hadapannya. Daud tidak memiliki banyak senjata, tetapi Tuhanlah yang menjadi perisainya. Tanpa Tuhan, tidak ada yang sanggup melindunginya dari serangan musuh. Daud terus berjuang. Dan, ia tidak menyerah sebab ia tahu kekuatannya ada pada Tuhan (ayat 8). Bagaimana dengan kita? Apabila ada persoalan berat di depan kita, apa yang menjadi kekuatan atau senjata kita? Apabila akhirnya kekayaan, kesehatan, kedudukan, kemampuan istimewa, dan hal-hal lain yang terbatas tak lagi mampu menolong kita, jangan menyerah. Selama kita terus melekat pada Kristus, Dia ada dan patut kita andalkan KRISTUS MENEBUS KITA DENGAN MENCUCURKAN DARAH AGAR KITA TAK MENJADI ORANG YANG MUDAH MENYERAH | |
Penulis: Helen Aramada Setyoputri | |
10 November 2010
| Belajar Menghargai | Baca: Keluaran 17:8-16 Ayat Mas: Keluaran 17:12 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 34-36; Kolose 2 |
Sekuntum mawar terlihat menonjol ketika ia berada di antara daun-daun hijau dan duri-duri tajam di sekitarnya. Begitu juga seorang tokoh utama dalam sebuah film tidak akan terlihat bagus perannya jika tidak ada pemeran pembantu di film tersebut. Memang keberadaan duri tajam dan peran pembantu kadang kurang diperhatikan, tetapi sesungguhnya justru keberadaan merekalah yang membuat sesuatu yang didukungnya terlihat lebih baik. Ada orang-orang yang berperan penting dalam kemenangan bangsa Israel. Yang pertama Yosua, yang memimpin bangsa Israel berperang melawan Amalek. Yang kedua Musa, sebagai pemimpin Israel yang harus memegang tongkat Allah. Ketika tongkat ini terangkat, maka bangsa Israel menjadi lebih kuat dan dapat mengalahkan bangsa Amalek. Lalu, apakah hanya mereka berdua yang dipakai Tuhan dalam kemenangan bangsa Israel ini? Tidak. Di sisi mereka—yang tidak kalah penting—ada Harun dan Hur. Ketika tangan Musa mulai penat dan mulai turun, Harun dan Hur membantu menopang tangannya, sehingga tetap terangkat. Dan ketika keduanya mendukung Musa demikian, Tuhan memberi kekuatan bagi bangsa Israel. Saat kita berperan sebagai pemimpin—dalam organisasi, perusahaan, gereja, keluarga, masyarakat—adakah kita menghargai mereka yang kita pimpin, mereka yang mendukung kita? Adakah kita memperlakukan mereka dengan baik? Yang harus selalu diingat adalah bahwa kita tak mungkin melakukan segala sesuatu sendirian. Tanpa mereka kita tidak bisa berkarya maksimal. Setiap peran mereka yang mendukung kita, selalu penting. Maka, mari belajar menghargai mereka. BISA MENGHARGAI PARA PENDUKUNG AKAN MEMBUAT SETIAP KARYA KITA SEMAKIN TEGUH | |
Penulis: Gloria Kamiharja | |
Langganan:
Postingan (Atom)


