| Think Less, Feel More | Baca: 1 Samuel 17:1-13 Ayat Mas: Efesus 3:20 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 32-33; Kolose 1 |
Sebuah majalah nasional memiliki rubrik khusus yang menceritakan aksi heroik seseorang yang menyelamatkan orang lain; menceburkan diri ke laut, menembus kebakaran. Umumnya orang-orang yang bergantian diceritakan adalah warga biasa. Namun, menurut salah seorang pengasuhnya, ada satu kesamaan yang menyatukan mereka: mereka bertindak tanpa berpikir. Saya jadi teringat pada pesan yang dicoretkan Rene Suhardono—seorang career coach—dalam bukunya:Think Less, Feel More (Lebih sedikit berpikir, lebih banyak merasa). Ada saat-saat dalam hidup ini ketika kita tidak dapat mengandalkan logika semata. Contohnya ada juga dalam bacaan hari ini. Dibanding saudara-saudaranya yang sudah menjadi prajurit, Daud adalah anak paling kecil (dari segi usia dan perawakan) yang aktivitas sehari-harinya adalah menggembala domba-domba ayahnya di padang rumput. Sedangkan pasukan Filistin tampil sebagai prajurit berpengalaman. Benar-benar lawan yang tak seimbang. Tatkala akhirnya Daud memutuskan untuk maju melawan raksasa Goliat, orang melihatnya sebagai tindakan yang tidak realistis. Namun, Daud mengandalkan imannya kepada Tuhan. Seluruh perasaannya diliputi kepercayaan kepada Allah yang ia yakini sanggup menolong. Dan, ia menang. Bagi Tuhan, tidak ada orang biasa atau luar biasa; yang ada hanya orang yang mau membuka hati untuk dipakai oleh-Nya atau tidak. Dalam hidup ini, ada situasi-situasi di mana kita seharusnya berpikir, tetapi juga diimbangi dengan respons dari hati. Bukalah hati Anda untuk dipakai Tuhan, karena Dia mau memakai Anda, melebihi dari yang bisa dipikirkan oleh otak kita SESUATU YANG MUSTAHIL BAGI LOGIKA PUN BISA TERJADI APABILA TUHAN MENGHENDAKI DAN HAMBA-NYA MEMBUKA HATI | |
Penulis: Olivia Elena | |
Jumat, 26 November 2010
09 November 2010
08 November 2010
| Talenta | Baca: Matius 25:14-30 Ayat Mas: Matius 25:21 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 30-31;Filipi 4 |
Ada sebuah cerita tentang talenta yang nyaris terkubur. Di sebuah bar, seorang pemain piano diminta untuk tidak bermain piano, tetapi menyanyi. Si pemain piano menolak dengan alasan ia tidak bisa menyanyi. Pemilik bar berkata, “Saya tidak membutuhkan pemain piano, tetapi seorang penyanyi. Kalau kamu tidak mau menyanyi, saya tidak akan membayar.” Dengan terpaksa si pemain piano itu mulai menyanyi. Dan belum pernah ada orang yang mendengar lagu Mona, Mona Lisaseindah malam itu saat dinyanyikan oleh si pemain piano, Nat King Cole, yang akhirnya menjadi penyanyi ternama. Dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta dikisahkan seorang tuan hendak bepergian jauh. Ia memberikan kepada tiga orang hambanya masing-masing lima, dua, dan satu talenta. Ketika sang tuan kembali, ia mendapati hamba yang memperoleh lima dan dua talenta telah mengelola talenta dengan baik, sehingga menghasilkan dua kali lipat. Maka, sang tuan pun memujinya. Sedang hamba yang memperoleh satu talenta malah menguburnya dan tidak menghasilkan apa-apa, sehingga sang tuan menegurnya dengan keras. Melalui perumpamaan tersebut kita belajar bahwa setiap orang pada dasarnya punya talenta. Tidak ada orang yang sama sekali tidak diberi talenta apa-apa oleh Tuhan. Hanya memang ada yang diberi banyak, ada yang diberi sedikit. Namun, banyak dan sedikitnya talenta itu bukan soal, sebab yang penting adalah bagaimana kita mengelolanya. Apakah kita mengelolanya dengan baik, sehingga menjadi berkat? Atau, malah menguburnya dan tidak menghasilkan apa-apa. TALENTA YANG ADA PADA KITA ADALAH TITIPAN TUHAN YANG HARUS KITA PERTANGGUNGJAWABKAN | |
Penulis: Ayub Yahya | |
07 November 2010
| Sahabat | Baca: 1 Raja-raja 5:1-12, 2 Samuel 10:1-5 Ayat Mas: Amsal 27:10 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 28-29; Filipi 3 |
Sebuah pepatah Cina kuno berkata bahwa belum tentu kita bisa mendapatkan seorang sahabat baru dalam satu tahun, tetapi sangatlah mudah untuk menyakiti dan kehilangan seorang teman dalam satu jam. Karena itu, orang yang bijak akan menghargai dan menjaga persahabatan dengan teman-temannya. Sama seperti yang dilakukan Raja Salomo kepada Hiram, raja Tirus, sahabat Raja Daud, ayah Salomo. Salomo menghargai persahabatan yang telah terjalin bahkan mengajak Hiram membantunya membangun Bait Allah. Dari persahabatan ini, banyak hal baik yang mereka capai bersama. Sebaliknya, orang yang bodoh akan memandang ringan persahabatan yang ia miliki dan memperlakukan teman-temannya dengan sesukanya. Inilah yang dilakukan oleh Hanun bin Nahas, raja Amon yang baru saja naik takhta menggantikan ayahnya yang belum lama meninggal. Ayahnya dulu adalah sahabat Raja Daud, sehingga Daud merasa perlu mengirimkan utusan untuk menyatakan belasungkawanya. Namun siapa sangka, Hanun malah mempermalukan utusan Daud itu. Sebuah tindakan yang memutuskan tali persahabatan antara bani Amon dengan bangsa Israel dan berbuahkan peperangan yang membawa kerugian besar bagi bani Amon. Siapa saja sahabat dan teman kita saat ini? Sudahkah kita menghargai mereka dengan sepantasnya? Apakah ada dari mereka yang kita abaikan atau bahkan kita perlakukan dengan semena-mena? Kalau ada, segeralah perbaiki hubungan yang mulai rusak itu. Jangan lupa pula untuk terus memelihara setiap hubungan persahabatan yang sudah berjalan baik selama ini PERSAHABATAN ITU INDAH TETAPI RAPUH MAKA HARUS SELALU ADA USAHA UNTUK MENJAGANYA | |
Penulis: Alison Subiantoro | |
06 November 2010
| Mendekap atau Meronta | Baca: Yakobus 4:1-10 Ayat Mas: Yakobus 4:8 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 26-27; Filipi 2 |
Suatu pagi seorang ayah mencoba menolong burung gereja yang terluka di depan rumahnya. Digenggamnya burung itu, tetapi ia terus meronta ketakutan lalu terbang sebelum sempat diobati. Sore harinya sang ayah membawa putrinya yang sakit ke dokter. Anak itu pun ketakutan melihat dokter akan memberinya suntikan. Ia mendekap ayahnya erat-erat. Sang ayah memeluk sambil mengusap kepalanya. “Tenang, Sayang. Tahan sebentar,” katanya. Hari itu sang ayah berhasil menolong putrinya yang sakit, tetapi gagal menolong si burung gereja. Sebab si anak mendekapnya di kala sakit, sedang si burung gereja meronta dan meninggalkannya. Setiap orang bisa merasa sakit hati ketika apa yang ia inginkan tidak kesampaian. Saat doanya tidak dikabulkan Tuhan dan orang sekitar tidak mendukung. Dalam menghadapi kekecewaan, ia dihadapkan dengan dua pilihan. Pertama, bersikap memberontak. Rasa kecewa dan tertolak membuatnya menjauhi Tuhan dan bersahabat dengan dunia (ayat 4,5). Kadang juga bersengketa dengan mereka yang dianggap menjadi penghambat (ayat 1,2). Pilihan kedua, mendekat kepada Allah (ayat 8). Dengan rendah hati ia belajar menerima kenyataan bahwa keinginannya bukan kehendak Tuhan. Cara ini memulihkan, sebab ketika ia mendekat pada Tuhan, Tuhan pun akan mendekat kepadanya. Ketika Tuhan menjawab “tidak”, apa yang Anda lakukan? Apakah hidup yang sulit telah membuat Anda undur dari-Nya? Selama Anda menjauh, hidup tidak akan menjadi semakin baik. Mendekatlah kepada Tuhan, supaya Dia dapat memulihkan Anda dari sakit hati Anda TIDAK DIKABULKANNYA DOA MENIMBULKAN MASALAH KECIL TIDAK MENERIMA KEHENDAK TUHAN MENIMBULKAN MASALAH BESAR | |
Penulis: Juswantori Ichwan | |
05 November 2010
| Teguran Seorang Anak | Baca: Lukas 2:41-52 Ayat Mas: Lukas 2:49 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 23-25; Filipi 1 |
Ini cerita dari D.L. Moody, dalam buku berjudul Orang Buta yang Membawa Lentera (Gloria Graffa, 2010). Seorang gadis kecil pulang dari gereja. Sambil duduk di pangkuan ayahnya ia berkata, “Ayah, apakah Ayah minum minuman keras lagi?” Perkataan putrinya itu membuat sang ayah gelisah. Jika istrinya yang menegur, tentu ia sudah hilang kesabaran dan minum lebih banyak alkohol. Namun, putrinya menegur dengan kasih. Ia pun bertobat. Sejak itu, rumahnya menjadi “surga” kecil. Saat berusia 12 tahun, Yesus sempat membuat orangtua-Nya cemas dan mencari-cari-Nya hingga tiga hari karena terpisah dari rombongan (ayat 45,46). Ketika akhirnya Yusuf dan Maria menemukan-Nya, Yesus menegur mereka dengan mengungkap tujuan kehadiran-Nya di dunia, yakni melakukan urusan Bapa-Nya (ayat 49). Dan Maria, khususnya, menerima teguran itu untuk mengenali kehendak Allah (ayat 52). Keterbukaan komunikasi ini tidak merenggangkan hubungan, tetapi justru mengarahkan kembali keluarga itu akan rancangan besar Allah bagi mereka. Seorang anak yang mengenal kasih Kristus sangat mungkin menjadi saksi yang berani. Sebab ia tulus, tak ada niat menjerumuskan atau mempermalukan orang lain. Khususnya bagi keluarga sendiri. Tak selalu orangtua yang mengoreksi anak. Bahkan, ketika suami atau istri tak mampu menegur pasangannya, maka si anak dapat. Justru anak kerap dapat menegur orangtua dengan cara yang lebih mudah diterima. Maka, bawa anak sedini mungkin kepada Kristus. Tanamkan kesetiaan beribadah. Dukung pertumbuhan rohaninya melalui bacaan dan pujian rohani. Agar mereka menjadi murid Kristus yang ikut mewujudkan surga kecil dalam keluarga! DALAM KELUARGA KRISTIANI YANG MAU BERTUMBUH SETIAP ANGGOTA TERBUKA UNTUK DITEGUR DAN MENEGUR | |
Penulis: Agustina Wijayani | |
04 November 2010
| Mata untuk Kelelawar | Baca: Lukas 12:22-32 Ayat Mas: Lukas 12:32 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 20-22; Efesus 6 |
Kelelawar memiliki mata faset yang tidak memungkinkannya untuk melihat jauh, apalagi pada malam hari. Uniknya, Tuhan mencipta kelelawar justru untuk hidup di tempat gelap dan terbang pada malam hari. Maka, bayangkan jika kelelawar berpikir bahwa sumber kekuatannya hanya pada penglihatan. Ia pasti takkan pernah terbang karena takut menabrak benda-benda keras yang dapat melukainya. Ia tidak dapat mencari makanan dan tempat tinggal, lalu akhirnya mati. Ternyata Tuhan memberinya kelebihan lain, yang disebut ekolokasi. Yakni kemampuan memperkirakan jarak benda dengan mendengarkan pantulan bunyi yang berfrekuensi tinggi. Dengan demikian kelelawar dapat terbang cepat tanpa takut menabrak berbagai benda. Kemampuan ekolokasi pada kelelawar, makanan untuk burung gagak, dan pakaian indah untuk bunga bakung, menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperlengkapi setiap ciptaan sesuai dengan yang ia perlukan untuk hidup. Dan, jika kelelawar pun Dia perlengkapi, Dia juga pasti memperhatikan hidup kita. Maka, jangan habiskan waktu untuk mempertanyakan apa yang tidak kita miliki. Tuhan tidak salah menempatkan kita dengan berbagai persoalan yang ada. Jangan berkecil hati, banyak hal sudah Tuhan persiapkan untuk memperlengkapi kita. Syaratnya cuma satu, “Carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkannya juga kepadamu” (ayat 31). Kelelawar, burung gagak, dan bunga bakung, dikasihi Tuhan. Terlebih kita. Berbesar hatilah dan carilah Tuhan. Dia menyediakan segala hal yang melampaui keterbatasan kita, agar hidup kita menyatakan kemuliaan dan kebesaran Kerajaan-Nya KETIKA TUHAN MENCIPTA SESEORANG TUHAN MEMPERLENGKAPINYA TANPA ADA YANG KURANG | |
Penulis: G. Sicillia Leiwakabessy | |
03 November 2010
| Anak yang Seperti Apa? | Baca: Yohanes 1:12-13 Ayat Mas: Yohanes 1:12) Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 17-19; Efesus 5:17-33 |
Pak Zainal memiliki tiga anak. Dalam hal pemberian, kasih, dan perhatian, Pak Zainal sama sekali tak membuat pembedaan bagi ketiga anaknya tersebut. Akan tetapi, dari ketiganya Pak Zainal mengaku bahwa ada satu anak yang terasa spesial di hatinya. Spesial bukan karena apa yang Pak Zainal lakukan buat anak ini, tetapi sebaliknya, justru karena anak yang satu ini sangat pandai menyenangkan hati ayahnya. Seorang penafsir Alkitab, William Barclay, menuliskan bahwa di dunia ini ada dua pandangan anak terhadap orangtua yang membesarkannya. Pertama, anak yang hanya menikmati kasih orangtuanya tanpa berbuat apa-apa sebagai timbal baliknya. Baginya, memang sudah kewajiban orangtua untuk memelihara anak-anaknya. Kedua, anak yang tetap mengingat dan sangat menyadari segala jerih payah dan kasih sayang orangtuanya. Dari kesadaran itu, ia menggunakan segala kesempatan untuk menyenangkan orangtuanya sebagai tanda terima kasih kepada mereka. Alkitab mencatat bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus diberi kuasa atau diangkat menjadi anak-anak Allah. Kita patut mengucap syukur atas hal ini. Akan tetapi, ada satu pertanyaan yang harus kita pikirkan. Sebagai anak Allah, anak yang seperti apakah kita? Apakah kita bersikap seperti anak yang hanya mau menikmati kasih Allah karena kita berpikir bahwa memang sudah sewajarnya Allah memelihara dan memperhatikan kita? Atau, kita menjadi anak yang benar-benar memahami bahwa kasih Allah kepada kita begitu besar, sehingga kita mau menjadi anak yang menyenangkan hati Bapa? MENJADI ANAK ALLAH SUDAH MERUPAKAN POSISI KITA YANG PASTI SEBAGAI ANAK YANG DIKASIHI, SELAYAKNYA KITA MENGABDI | |
Penulis: Riand Yovindra | |
Langganan:
Postingan (Atom)