| Mengajarkan Berulang-ulang | Baca: Ulangan 6:4-9 Ayat Mas: Ulangan 6:6,7 Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 3-5; 1 Timotius 4 |
Suatu kali seorang guru Sekolah Minggu menegur Kevin, murid yang dikenal badung dan suka berbuat iseng di kelasnya. “Kevin, tidak boleh begitu! Tuhan Yesus tidak suka kalau Kevin begitu.” Dengan enteng Kevin menjawab, “Ah biarin, nanti Tuhan Yesusnya saya smack down”. Mendengar pernyataan muridnya tersebut, sang guru mendekat dan menasihatinya. Memang perlu diakui bahwa anak-anak lebih mudah mengikuti teladan tokoh atau acara tertentu di televisi dibandingkan cerita Alkitab, bahkan Tuhan Yesus sendiri. Mengapa? Karena Tuhan Yesus tidak terlihat, sedangkan televisi lebih nyata. Ini wajar karena salah satu pintu belajar seorang anak adalah penglihatan. Jadi, bagaimana caranya agar anak tersebut dapat belajar tentang Allah secara nyata? Orangtualah jawabannya. Orangtua harus mewujudkan dan menunjukkan contoh penerapan dari pengajaran mengenai Allah, dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah bukunya, Cornelius Plantinga Jr. mengatakan bahwa anak akan belajar mengenai Allah justru waktu ia melihat orangtuanya berdoa, menyebut nama Allah, menghindari dosa, dan memprioritaskan Allah dalam hidupnya. Kondisi zaman dan kemajuan teknologi memang dapat memberi pengaruh yang positif, tetapi sekaligus mendatangkan peringatan bagi orangtua kristiani. Setiap orangtua harus sungguh-sungguh mencondongkan hati kepada Allah dan hidup takut akan Allah. Supaya pengajaran mengenai Allah dapat ditangkap sepenuhnya oleh anak-anak ketika mereka melihat langsung cara hidup orangtuanya. Itulah artinya mengajarkan tentang Allah secara berulang-ulang kepada anak-anak. ANAK-ANAK AKAN TERTOLONG UNTUK DAPAT MELIHAT TUHAN KETIKA ORANGTUA MELAKUKAN APA YANG ALKITAB AJARKAN | |
Penulis: Riand Yovindra | |
Jumat, 26 November 2010
24 November 2010
23 November 2010
| Tali Tambang | Baca: Mazmur 39:5-8 Ayat Mas: Mazmur 39:5 Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1-2; 1 Timotius 3 |
Suatu pagi, saya mendampingi teman sekampus yang memakamkan ibunya. Sorenya, seorang teman lain menikah. Hidup terkadang memiliki jalan yang begitu unik dalam membelitkan suka dan duka. Satu kali Nobita—sebuah karakter kartun Jepang—meminta pada Doraemon —sahabatnya—agar ia bisa selalu beruntung dalam hidup. Namun, Doraemon mengangkat sebuah tali tambang dan menunjukkan bahwa tali yang kokoh itu terdiri dari dua helai tali yang saling melilit. Dan ia mengibaratkan dua tali itu sebagai kebahagiaan dan kesedihan hidup yang terangkai menjadi satu. Kesedihan akan diganti dengan kegembiraan, sebaliknya kegembiraan juga tidak akan berlangsung terus-menerus karena akan ada kesedihan di depan sana. Hidup tidak bisa menawarkan kepastian pada manusia. Sekokoh dan semapan apa pun kita membangun hidup, semua itu fana dan bisa runtuh dalam sekejap. Dan akhirnya, hal yang paling pasti dalam hidup ini adalah betapa fananya hidup manusia. Pemazmur tampaknya sangat memahami fakta ini. Ketika ia merenungi betapa fananya hidup di dunia, maka ia menyadari betapa banyaknya hal sia-sia yang diributkan manusia (ayat 7). Satu harapan paling kokoh yang kita miliki hanyalah pada Tuhan. Rasa percaya kita kepada-Nya tidak akan pernah sia-sia. Dari titik kesadaran ini, alangkah baiknya jika kita mengurangi perhatian pada hal-hal fana yang kerap dipermasalahkan dengan sesama manusia. Tata ulang prioritas hidup kita. Dan biarlah kita semakin giat melakukan hal-hal penting yang akan mempersiapkan kita menjelang kehidupan kekal yang tak mengenal kefanaan TUHANLAH SATU-SATUNYA YANG BISA KITA PERCAYA DI TENGAH KETIDAKPASTIAN HIDUP | |
Penulis: Olivia Elena | |
22 November 2010
| Melayani Hamba Tuhan | Baca: 3 Yohanes 1:1-10 Ayat Mas: 3 Yohanes 1:8 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 65-66; 1 Timotius 2 |
Pada masa awal perkembangan kekristenan, di kawasan Asia kecil ada orang-orang yang melayani sebagai penginjil keliling. Itu sebabnya, ketika tiba di suatu tempat asing, mereka selalu perlu tempat bermalam. Namun, saat itu tidak banyak tempat yang dapat dijadikan tempat singgah. Dari situlah muncul kebiasaan di jemaat untuk mengundang para penginjil keliling ke rumah, agar jemaat dapat menyediakan tempat bermalam dan makanan bagi mereka. Rasul Yohanes sangat menghargai pelayanan para anggota jemaat yang setia dan sedia mendukung pelayanan para penginjil keliling dengan cara demikian. Gayus, adalah salah seorang yang melakukan pelayanan ini. Ia setia memberi pelayanan dan dukungan bagi orang-orang yang sama sekali asing dan belum ia kenal—para penginjil keliling itu (ayat 5). Namun, ada juga sosok seperti Diotrefes. Ia menolak para penginjil keliling singgah di rumahnya. Bahkan, menghalangi anggota jemaat lain menerima para penginjil di rumah mereka. Dalam situasi demikian, Yohanes mengatakan bahwa sesungguhnya mereka yang mau menyambut para penginjil keliling, telah mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan (ayat 8). Dengan kata lain, mereka telah menjadi mitra pelayanan—rekan sekerja, yang sama berartinya. Mungkin kita adalah anggota jemaat biasa. Namun, kita dapat mendukung pelayanan para hamba Tuhan lewat hal-hal sederhana. Kita bisa berdoa bagi para hamba Tuhan; bisa juga menyediakan sarana pendukung bagi pelayanan para hamba Tuhan. Dengan demikian, kita telah turut dalam usaha mereka untuk menyebarkan firman Allah. NAMA TUHAN AKAN SEMAKIN LUAS DIWARTAKAN JIKA ANAK-ANAK TUHAN SALING MENJADI MITRA DALAM PELAYANAN | |
Penulis: Sunandar Sirait | |
21 November 2010
| Mati | Baca: 2 Tawarikh 9:29-31 Ayat Mas: 2 Tawarikh 9:31 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 62-64; 1 Timotius 1 |
Kuburan tua itu tidak terurus. Beberapa batu batanya sudah copot. Tanaman liar tumbuh tinggi di sekelilingnya. Walau bekas-bekas kemegahannya dulu masih tampak; tiang penyangga berlapis keramik di bagian tengah, juga kayu jati berukir ikan dan ular yang menaungi batu nisan. Di batu nisan itulah tulisan ini tertera: “Hidup ini fana. Demikianlah kiranya ujung dari kehidupan. Pun mereka yang memegang jabatan setinggi langit; menggenggam kekayaan sebanyak pasir di laut.” Konon, itu kuburan seorang pedagang kaya raya yang hidup jauh sebelum zaman kemerdekaan. Begitulah, akhir kehidupan di dunia: kematian. Maka sebetulnya, aneh kalau ada saja orang yang sampai mau mengorbankan apa pun, menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara yang kotor dan keji, demi meraih atau mempertahankan jabatan dan kekayaan. Sebab toh pada akhirnya semua itu akan ditinggalkan juga. Tidak akan dibawa mati. Bacaan Alkitab hari ini menceritakan babak terakhir dari kehidupan Salomo, persis setelah perikop sebelumnya memaparkan tentang segala kejayaannya (2 Tawarikh 9:13-28). Dengan urut-urutan perikop demikian, penulis 2 Tawarikh seolah-olah mau mengatakan, betapa pun hebatnya manusia, ia tetap makhluk fana. Di batas akhir hidupnya, yang tinggal hanyalah seonggok kenangan. Pesan untuk kita, jangan dimabukkan oleh jabatan dan jangan lupa diri karena harta kekayaan. Apalagi kalau karena itu, lalu kita mau berbuat apa saja, mengorbankan apa saja. Jangan. Sebab semua itu tidak abadi. Pada akhirnya, cepat atau lambat akan kita tinggalkan JANGAN KARENA UNTUK SESUATU YANG FANA KITA KEHILANGAN YANG KEKAL | |
Penulis: Ayub Yahya | |
20 November 2010
| DOA SYAFAAT | Baca: Kejadian 18:23-33 Ayat Mas: Kejadian 19:29 Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 15-18 |
Dalam sebuah pengadilan, peran seorang advokat atau pengacara sangat penting. Pembelaannya di depan hakim akan menentukan nasib sang terdakwa. Bayangkanlah cerita Alkitab hari ini dengan situasi sebuah pengadilan. Kota So-dom dan Gomora duduk di kursi terdakwa; Allah sebagai Hakim; jaksa penuntut diperankan oleh banyak orang yang berkeluh-kesah tentang kedua kota itu; dan Abraham tampil membela pihak tertuduh dengan argumentasinya yang gigih. Dengan keberanian yang mengagumkan, Abraham melakukan tawar-menawar dengan Tuhan tentang jadi atau tidaknya Dia menjatuhkan hukuman atas Sodom dan Gomora. Kesepakatan antara Tuhan dengan Abraham akhirnya diperoleh. Hukuman terhadap Sodom dan Gomora tetap dilaksanakan. Namun, perhatikanlah bahwa Allah menyatakan kemurahan-Nya kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dan, Allah pun menjalankan misi penyelamatan atas Lot dan keluarganya. Mengapa? Karena Dia ingat kepada Abraham! Peristiwa ini sungguh menggetarkan hati. Allah mengingat Lot karena doa yang dinaikkan Abraham. Sebuah lagu pop rohani berkata: Bila kau rasa sepi dan hatimu pun sedih, ingatlah seorang mendoakanmu. Doa syafaat adalah seruan permohonan kepada Tuhan atas nama pihak lain. Tuhan memedulikan doa semacam ini. Abraham berseru kepada Tuhan atas nama Lot, dan Lot pun diselamatkan. Tuhan ingat seruan Abraham. Kita pasti pernah, atau bahkan sedang diberkati karena seseorang mendoakan kita. Namun, sebaliknya, biarlah ada seseorang yang juga diberkati karena Allah ingat akan doa-doa kita untuknya BIARLAH HARI INI SESEORANG MENERIMA JAWABAN ALLAH KARENA TUHAN INGAT SAYA MENDOAKANNYA | |
Penulis: Pipi Agus Dhali | |
19 November 2010
| Pertengkaran Saudara | Baca: Bilangan 12 Ayat Mas: Amsal 6:16,19 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 56-58; 2 Tesalonika 2 |
Sebuah peribahasa Vietnam berkata, “Kedekatan saudara sekandung itu seperti kedekatan tangan dengan kaki.” Maka, sebenarnya pihak-pihak itu tak bisa saling melukai, sebab sakitnya akan terasa oleh semua. Selama berpuluh tahun Miryam dan Harun setia menyertai dan mendukung Musa—adik mereka—dalam memimpin bangsa Israel. Namun pada satu titik, mereka iri pada hubungan pribadi Musa yang istimewa dengan Tuhan—bahkan Tuhan berbicara kepadanya muka dengan muka (ayat 8). Hingga Miryam dan Harun tega berkata tajam, “Sungguhkah Tuhan berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (ayat 1,2). Dan atas sikap tersebut, Tuhan bertindak. Dia memanggil, menegur mereka, dan menghukum Miryam (ayat 10). Syukurlah mereka segera menyadari kedaulatan Tuhan. Musa dan Harun pun memintakan ampun atas Miryam, supaya ia dipulihkan (ayat 11-13). Hubungan saudara-bersaudara terkadang bisa diwarnai pertengkaran—pada segala usia; dari anak-anak hingga ketika semua sudah sama-sama dewasa bahkan usia lanjut, seperti Musa bersaudara. Topiknya bisa beragam; kasih yang dirasa berbeda dari orangtua, pinjam meminjam uang atau pembagian warisan, perasaan kurang beruntung dibanding yang lain, dan sebagainya. Segala sesuatu bisa terjadi. Maka, izinkan Tuhan terlibat dalam kehidupan kita berkeluarga. Hingga ketika perselisihan terjadi, Tuhan menolong kita melihat keadaan sebenarnya, dan mendapati jalan keluar yang baik bagi semua. Sambil tetap berusaha menjaga hubungan yang rukun, saling percaya dan menerima, serta saling mendoakan. KETIKA SAUDARA-BERSAUDARA TERIKAT OLEH KASIH TUHAN MAKA SELURUH KELUARGA PASTI TERPELIHARA DALAM PERSATUAN | |
Penulis: Agustina Wijayani | |
18 November 2010
| MEMERIKSA DIRI | Baca: Mazmur 26 Ayat Mas: Mazmur 26:2 Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 29-31 |
Setiap kendaraan; mobil atau sepeda motor, biasanya dilengkapi dengan buku manual untuk mengoperasikan kendaraan tersebut dan buku manual untuk melakukan servis. Ya, supaya kendaraan tetap prima, kita perlu melakukan pera-watan secara berkala. Sayangnya, orang kerap berpikir bahwa kalau tidak ada masalah maka tidak usah ke bengkel. Akibatnya, kendaraan pun jadi cepat rusak. Tubuh kita ibarat kendaraan yang perlu diperiksa secara rutin dan berkala. Kapan terakhir Anda memeriksakan diri ke dokter? Bukan hanya ketika Anda tengah sakit, tetapi juga ketika Anda merasa sehat walafiat, tidak ada masalah yang berarti. Kesibukan sehari-hari, tekanan pekerjaan dan kehidupan, juga usia yang semakin bertambah, mestinya membuat kita mawas diri dengan kesehatan. Sayangnya, kecuali sedang sakit, kerap kali orang enggan memeriksakan diri ke dokter. Entah karena tidak mau repot, malas, atau juga takut. Padahal memeriksakan diri itu penting. Kita jadi bisa tahu makanan apa yang harus dihindari, atau gaya hidup seperti apa yang perlu diubah. Sebab menjaga kesehatan tetap jauh lebih baik daripada menunggu sakit baru diobati. Pemeriksaan diri tidak saja perlu bagi tubuh jasmani, tetapi juga bagi tubuh rohani. Itulah yang dilakukan Daud. Ia berdoa agar Tuhan menguji dan menyelidiki batin serta hatinya. Dengan begitu ia pun dapat mengikis segala kotoran yang ada dalam hati dan pikirannya. Introspeksi dan evaluasi diri secara rutin adalah salah satu cara yang terbaik untuk memeriksa kesehatan tubuh rohani kita MEMERIKSA DIRI MEMBUAT HATI SEHAT, JIWA TERJAGA | |
Penulis: Ayub Yahya | |
Langganan:
Postingan (Atom)






